• kugy

    idznimits:

    Dear Neptunus, aku mencintainya.
    Di depannya aku menjadi diriku sendiri.

    Seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku.
    Dia pun begitu, membuatku hanyut oleh sorot matanya.
    Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya.

    Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya.
    Bahkan untuk sekedar bilang rindu…
    … atau butuh.

    Banyak yang ga ngerti.
    Lalu terluka dan saling menyalahkan.

    Karena itu aku takut bicara tentang hati.
    Maka kutuliskan saja.
    Lalu kusimpan dan mungkin kukirimkan entah ke mana.

    Perahu Kertas :)

    Ketika dongeng dan lukisan bersatu.

    (via rulaznif)

  • 2 weeks ago
  • Piala

    Sepenggal cerita tentang si piala :}

    Ini tentang pialanya Ipa 1. Piala!

    Satu-satunya. Dan itu juga dapetnya dari lomba tumpeng waktu acara 17an di sekolah. Tapi itu tumpengnya memang enak banget pas kita makan bareng-bareng :D

    Pialanya masih ada sampe sekarang. Suka disombongin. Kadang-kadang pialanya sengaja ditaro di meja guru biar guru-guru liat =)) Terutama kalo pelajaran Pak D*hm*n. Kadang-kadang kita bohong kalo itu piala libas. Eh itu mah bukan kadang-kadang deng, tapi seringnya emang bohong gitu =))

    Lucunya, setiap kita foto bareng, piala itu harus ada. Kalo libas atau porak juga harus ada. Katanya sih biar bawa keberuntungan. Itu piala suka diciumin dan diacung-acungin kalo anak-anak ngegolin. Terus pas foto tim juga harus bawa piala itu. Berasaaa baru menang.

    Dan itu punya piala satu aja bangganya minta ampun. Bahkan, foto booklet pun, piala itu dibawa. Pokoknya harus ada! Biasalah, kebanggaan.

    Oh, dan ada satu lagi cerita tentang si kebanggaan. Tiba-tiba…koleksi kebanggaan kita nambah.

    Mendadak, di atas lemari ada satu plakat lagi. Suka disejajarin sama si piala tumpeng. Ditaro di meja guru, jadi ada dua kebanggaan. Udah berasa paling juara.

    Yang aku gak ngerti adalah, itu plakat satu lagi dari mana!! Tulisannya “juara nasyid” Tahunnya juga bukan tahun kita. Tapi kita nyantai. Kita ngaku-ngaku punya kita. “Kita kan emang pernah menang nasyid! Pokoknya kita pernah menang nasyid! Entah kapan, tapi pernah!” Sebenernya agak sedih.

    Tapi namanya juga orang mau sok sombong, jadi yaa punya siapa juga gak masalah.. *Maaf ya untuk pemenang sebenarnya =))

    Oke, jadi kita punya dua kebanggaan. Yang satu piala tumpeng, yang satu plakat nasyid. Tumpeng dan nasyid…….. Kurang keren apa coba………..

    Dan suatu saat nanti aku akan sangat merindukan piala itu, plakat itu, beserta kalian semua.

    :)

    Si piala sama si pengserut kelas. Agak sombong sedikit gak apa-apa lah ya =))

    Sayang foto plakatnya gak ada

    #Ipa1  

  • 3 weeks ago
  • heheysa asked: nad dpt foto ini dimanaaaaaa yang ipa 1

    di facebooknya idesign hey =))

  • 3 weeks ago
  • Gak ngerti lho sama foto ini =))

    Tapi selalu ingin ketawa ngeliatnya =))

    #Ipa1  

  • 3 weeks ago
  • Dingin dan Panas

    Satu momen yang membuktikan betapa manusia bisa menjadi sangat egois. Di saat yang bersamaan, manusia menginginkan dingin yang membekukan dan membisukan. Tapi juga manusia menginginkan panas yang melelehkan dan membakar.

    Ini hanya antara kiri dan kanan. Yang diinginkan. Yang tidak bisa dipilih. Dingin dan panas yang berlawanan, saling menolak tapi juga saling menarik.

    Tapi aku benar-benar membutuhkannya. Dan itu dalam waktu yang bersamaan. Dan itu darurat. Aku ingin dingin ini tidak segera memanas. Tapi juga aku ingin panas ini tidak segera mendingin. Di satu sisi aku ingin dingin lebih kekal. Tapi di sisi lain aku juga ingin panas yang lebih kekal. Seperti menginginkan dua hal menang, tapi tidak bisa. Untuk ada yang menang harus ada yang kalah. Tapi aku ini egois.

    Hanya dingin dan panas. Kenapa tidak bisa menghangat saja. Ini tidak adil…

  • 1 month ago
    1 month ago
  • "Terimakasih ya Allah karena engkau menempatkan aku menjadi bagian orang-orang hebat ini ….."

    cc : @ipasatu9 (via fiemaeliaputeri)

    (via idznimits)


  • 1 month ago
  • "Aku berlindung kepada Allah dari ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang salah, dari pahitnya kenyataan, dari hati yang terbolak-balik, dan dari teman yang berkhianat."

    (via kuntawiaji)

    (via akatsup)


  • 1 month ago
  • Anak kecil! Dia tertawa mengejekku. Mengapa duduk di belakang? Sini! Sini, duduk di muka! Masih ada tempat.

    Tidak, Pak! Di sini saja, jawabku.

    Dia berdiri di samping bangkuku. Tidak ada yang duduk bersamaku.

    Mengapa? Supaya paling akhir mendapat giliran? tanyanya.

    Seisi kelas tertawa.

    Tidak Pak, kataku lagi.

    Supaya dapat melihat orang-orang lain. Sedangkan mereka, yang duduk di depan, harus berpaling untuk melihatku.

    Kutipan novel dalam salah satu Soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia, 2009/2010.

  • 1 month ago
    Simple but unpredictable.